Selasa, 01 Desember 2009

Sejarah Yakuza

Sejarah panjang Yakuza dimulai kira-kira pada tahun 1612, saat Shogun Tokugawa berkuasa dan menyingkirkan shogun sebelumnya. Pergantian ini mengakibatkan kira-kira 500.000 orang samurai yang sebelumnya disebut hatomo-yakko (pelayan shogun) menjadi kehilangan tuan, atau disebut sebagai kaum ronin.

Seperti kata pepatah : orang yang hanya punya martil cenderung melihat segala sesuatu bisa beres dengan dimartil, demikian juga dengan kaum ronin ini. Banyak dari mereka menjadi penjahat dan centeng. Mereka disebut sebagai kabuki-mono atau samurai nyentrik urakan yang ke mana-mana membawa pedang. Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa slang dan kode rahasia. Terdapat kesetiaan tingi di antara sesama ronin sehingga kelompok ini sulit dibasmi.

Untuk melindungi kota dari para kabuki-mono, banyak kota-kota kecil di Jepang membentuk machi-yokko (satuan tugas (satgas) desa). Satgas ini terdiri dari para pedagang, pegawai, dan orang biasa yang mau menyumbangkan tenaganya untuk menghadapi kaum kabuki-mono. Walaupun mereka kurang terlatih dan jumlahnya sedikit, tetapi ternyata para anggota machi-yokko ini sanggup menjaga daerah mereka dari serangan para kabuki mono. Di kalangan rakyat Jepang abad ke 17, kaum machi-yokko ini dianggap seperti pahlawan.

Masalah jadi rumit, karena setelah berhasil menggulung para ronin, para anggota machi-yokko ini malah meninggalkan profesi awal mereka dan memilih jadi preman. Hal ini diperparah lagi dengan turut campurnya Shogun dalam memelihara para machi-yokko ini. Ada dua kelas profesi para machi-yokko, yaitu kaum Bakuto (penjudi) dan Tekiya (pedagang). Namanya saja kaum pedagang tetapi pada kenyataannya, kaum Tekiya ini suka menipu dan memeras sesama pedagang. Walau begitu, kaum ini punya sistem kekerabatan yang kuat. Ada hubungan kuat antara Oyabun (Bos (bapak)) dan Kobun (bawahan (anak)), serta Senpai-Kohai (Senior-Junior) yang kemudian menjadi kental di organisasi Yakuza.

PENJUDI
Kaum Bakuto (penjudi), punya sejarah yang unik. Awalnya mereka disewa oleh Shogun untuk berjudi melawan para pegawai konstruksi dan irigasi. Tindakan ini dilakukan agar gaji para pegawai konstruksi dan irigasi habis di meja judi dan tenaga mereka bisa disewa dengan harga murah.

Jenis judi yang biasa dilakukan adalah menggunakan kartu Hanafuda dengan sistem permainan mirip Black Jack. Tiga kartu dibagikan dan bila angka kartu dijumlahkan, maka angka terakhir menunjukkan siapa pemenang, diantara sekian banyak kartu sial kartu berjumlah 20 adalah yang paling sering disumpahi orang, karena berakhiran nol. Salah satu konfigurasi kartu ini adalah kartu dengan nilai (8-9-3) yang dalam bahasa Jepang menjadi Ya-Ku-Za yang kemudian menjadi nama asal Yakuza.

Dari kaum Bakuto ini juga muncul tradisi menandai diri dengan [tato] disekujur badan (disebut irezumi) dan yubitsume (potong jari) sebagai bentuk penyesalan ataupun sebagai hukuman. Awalnya hukuman ini bersifat simbolik, karena ruas atas jari kelingking yang dipotong membuat si empunya tangan menjadi lebih sulit memegang pedang dengan mantap. Hal ini menjadi simbol ketaatan terhadap pimpinan.

YAKUZA MODERN

Waktu pun berlalu, kaum Bakuto dan Tekiya menjadi satu identitas sebagai Yakuza. Kaum yang asalnya bertugas melindungi masyarakat – menjadi ditakuti masyarakat. Para pimpinan Jepang memanfaatkan hal ini untuk mengendalikan masyarakat dan menggerakkan nasionalisme. Yakuza ikut direkrut oleh pemerintah Jepang dalam aksi pendudukan di Manchuria dan China oleh Jepang tahun 1930-an. Para Yakuza dikirim ke daerah tersebut untuk merebut tanah, dan memperoleh hak monopoli sebagai imbalan.

Peruntungan kaum Yakuza berubah setelah Jepang menyerang Pearl Harbor. Militer mengambil alih kendali dari tangan Yakuza. Para anggota Yakuza akhirnya harus memilih apakah bergabung dalam birokrasi pemerintah, jadi tentara atau masuk penjara. Dapat dikatakan pamor Yakuza menjadi tenggelam.

Setelah Jepang menyerah, para anggota Yakuza kembali ke masyarakat. Muncul satu orang yang berhasil mempersatukan seluruh organisasi Yakuza. Orang itu adalah Yoshio Kodama, seorang eks militer dengan pangkat terakhir Admiral Muda (yang dicapainya di usia 34 tahun). Yoshio Kodama berhasil mempersatukan dua fraksi besar Yakuza, yaitu Yamaguchi-gumi yang dipimpin Kazuo Taoka, dan Tosei-kai yang dipimpin Hisayuki Machii. Yakuza pun bertambah besar keanggotaannya terutama di periode 1958-1963 saat organisasi Yakuza diperkirakan memiliki anggota 184.000 orang atau lebih banyak daripada anggota tentara angkatan darat Jepang saat itu. Yoshio Kodama dinobatkan sebagai godfather-nya Yakuza.EKSTASI, PACHINKO DAN PERDAGANGAN SENJATA

Di masa kini, keanggotaan Yakuza diperkirakan telah menurun tajam, tetapi bukan berarti tidak berbahaya. Tulang punggung bisnis ilegal mereka adalah pachinko, perdagangan ampethamine (termasuk ice dan ekstasi), prostitusi, pornografi, pemerasan, hingga penyelundupan senjata.

Di era 1980-an, Yakuza mengembangkan sayap mereka hingga ke Amerika Serikat, dan ikut masuk dalam bisnis legal untuk mencuci uang mereka. Dalam operasinya, Yakuza membeli aset di Amerika dan salah satu yang pernah mencuat ke permukaan adalah keterlibatan Prescott Bush, saudara dari presiden George H.W. Bush dan paman dari Presiden George W. Bush, dalam transaksi penjualan perusahaan Aset Management International Financing & Settlements di awal 1990an.

Berdasarkan perkiraan kasar dari sumber majalah Far Eastern Economic Review edisi 17 Januari 2002, Yakuza diperkirakan telah menanamkan uang hingga 50 milyar dolar dalam investasi saham dan perusahaan di Amerika Serikat. Bandingkan dengan cadangan devisa Indonesia yang 36 milyar dolar.

Di dalam negeri, Yakuza juga ditengarai turut berperan dalam anjloknya ekonomi Jepang selama 10 tahun terakhir. Sebagai akibat amblasnya bisnis properti dan macetnya kredit bank di Jepang pasca 1990, banyak debitor yang menyewa anggota Yakuza agar agunan mereka tidak disita oleh bank. Selain itu, banyak perusahaan yang memperoleh pinjaman bank pada dasarnya adalah sebuah kigyo shatei, perusahaan boneka miliki Yakuza. Perusahaan milik Yakuza ini diperkirakan memperoleh kredit antara 300-400 milyar dolar, dan sebagian dari jumlah itu dialirkan ke induk organisasi Yakuza. Menghadapi hal seperti ini, bank Jepang jelas tidak bisa berkutik.

Di sisi lain, anggota Yakuza juga kerap membeli aset properti dengan harga miring dari perusahaan yang butuh uang tunai untuk dijual kembali dengan harga tinggi apapun itu mulai dari apartemen, perkantoran hingga rumah sakit. Bila sebuah bangunan telah dibeli oleh Yakuza, tidak ada yang berani jadi tetangga mereka dan alhasil harga properti langsung jatuh, dan segera naik segera setelah Yakuza menjualnya.

Selain beroperasi secara di level bawah, Yakuza juga menggurita di kalangan politisi Jepang. Beberapa praktik suap telah terbongkar termasuk dalam program tender proyek umum senilai trilyunan yen. Program rekapitalisasi perbankan Jepang yang berlarut-larut tidak kunjung selesai diperparah oleh keterlibatan Yakuza yang sangat berkepentingan dalam bisnis properti dan kredit perbankan. Saat ini perbankan Jepang masih menanggung beban kredit macet sebesar kira-kira 1,2 Triliun dolar dan membuat ekonomi tidak bertumbuh selama 10 tahun terakhir.

japs chopper

Jap’s Chopper

By gsx250

kiriman dari temen dijapan pas kumpul2 biker volty dan St250 yang dah modif..
model choper ternyata lagi in juga disana.. menurut mereka rangka Volty 250 enak dibikin model seperti ini.. ubahan terhadap di rangka tidak telalu banyak karena sudah cocok dengan model chopper.. dan biasanya mereka tidak melalukannya sendiri melainkan ke rumah modifikasi jepang seperti White Horse, chik, WYM dll..
1. Yuhn osaka

Desainya Chopper nya tidak merubah rangka yang ada hanya as Swing arm di di bikin dudukan lagi ke atas agar jarak ke Groundnya lebih rendah.. choopper-2

choopper-3

choopper-1

2. xxx osaka

untuk model Chopper yang satu ini rangka sudah mengalami perubahan yang mana tujuanya sama agar Groundnya lebih rendah..
yachoopper-4

choopper

3. xxx osaka
chop-jap-1

chop-jap-2

chop-jap

semoga menjadi inspirasiii…..

japs bober

Simpel dan Murah
2009-04-08 18:19:05

1845dou-flattrack---anton-1.jpgMumpung lagi bahas aliran jap’s style, Em-Plus tanya langsung orang yang ngalami. ”Di Jepang naliran ini memang booming! Soalnya selain simpel, modifnya juga murah. Tak cuma itu, buat rider yang suka estetika, bentuknya sip,” jelas Mr. Koichi Sakaguchi from Suicide Custom dari kota Anjyo Jepang yang sering mampir ke Jakarta.1846dou-flattrack---anton-2.jpg

Gugum builder Extraordinary Built Off Bandung juga setuju. ”Paling digandrungi karena murah dan tidak mengubah struktur rangka utama,” ungkapnya. Mungkin ini jadi masukan dua owner CB100 ‘76 dan ‘74, Vicky Wijaya Sasongko dan Farid. Saat dijepret berbarengan kedua motor punya kesamaan selera modif.

”Jangan saru sama aliran scrambler lho tapi ini ol skool jap’s style,” buka Vicky pemilik CB 1976. Baginya pemilihan desain punya cerita tersendiri. Sebelum seperti ini, motornya beraliran scrambler yang dekat ke gaya enduro. “Saya ketiban apes! Di Cileduk, Tangerang mencium tanah air alias gedubrak. Badan lecet semua,” kisah cowok botak ini. Atas alasan itulah ia pindah aliran.

1847dou-flattrack---anton-3.jpgFarid beda kisah. Ia menganggap, aliran jap’style mampu mengekplorasi rasa seni yang resik dan apik. Jadi nggak heran, Farid jauh lebih poser dan kental motor kontes ketimbang Vicky. Untuk penggarapan, percaya pada Franky Yassashi dari Garage Bandung. kelir diorder pada Wawan Protehnik yang menganut gaya blink-blink era 50-an dengan flame dinamis dan glitter extravaganza.

Kesamaan keduanya pada nuansa bobber yang diperlihatkan. Bukan pada pilihan ban depan-belakang gendut tentunya, tapi karena beberapa komponen asli CB seperti tangki di motor Vicky dan rangka yang asli tak diganggu.

Teknik standar meminjam komentar builder beken Veroland (Kick Ass Choppers). “Itulah istilah sebenarnya bobber, yakni mempertahankan komponen standar dalam sentuhan modif. Jadi bukan pada roda depan belakang gendut,” jelas Vero mencoba meluruskan definisi bobber.

Z-BAR DAN RAISER TINGGI1848duo-cb-flatrack-anton-4.jpg

Biar keduanya memilih aliran sama, roh yang dibawa berbeda. Vicky senang berkesan lebih urakan dengan setang khas choppers jalanan, z-bar. Farid lain lagi, ia yang berpembawaan kalem, doyan motor resik dan lebih konsen di detail.

Sentuhan kecil jadi titik perhatian. Lihat rancangan mahkota raja di tutup tangki, pastinya bikin kagum. Belum lagi drag bar dengan raiser tinggi. Ups, simak tuh tuas rem yang dipilih model rantai. Tentunya dilas agar pakem dan nggak meleot kiri-kanan.

Vicky lebih urakan dan nggak banyak main detail. Lampu depan dan belakang diambil dari variasi mobil. ”Depan milik Willys,’” singkat cowok yang doyan pakai celana pendek ini. Soal kelir, aroma sport retro juga dipertontonkan dengan motif bendera start.

Urusan jok keduanya hampir sama, gaya flat track yang masih bisa dipakai boncengan. Di soal ini Vicy punya keunggulan. Beda dengan jok Farid yang dijahit, jok dipres hingga tak bisa tembus air. Yang aneh desain knalpotnya, agak nabrak dengan genre yang dipilih.

Pengikut